Melawat ke Loloda

Cerita mengenai kerajaan Loloda memang jarang terdengar. Literatur salah satu kerajaan tertua di pulau Halmahera, Maluku Utara itu, terkesan sulit diakses. Harus diakui, selama ini kisah heroik raja-raja di Maluku yang paling sering dibicarakan adalah Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Meski begitu, Loloda, negeri yang dalam Encyclopaedy van Nederland Indie 1918, disebut sebagai “Gerbang Maluku” itu tentu patut dibicarakan.

Kamis, 13 Desember 2018, Jalamalut berkesempatan mengunjungi pedalaman Loloda di barat Halmahera. Wilayah Loloda sendiri secara administratif, ada yang masuk wilayah Kabupatan Halmahera Utara, ada juga di Kabupaten Halmahera Barat. Wilayah pedalaman yang kami datangi kala itu meliputi Desa Salu, Bakun, Laba Kecil, dan Laba Besar.

Cerita warga, wilayah pedalaman Loloda merupakan wilayah bersejarah. Kampung-kampung di Loloda seperti Soasio, Kahatola, dan sekitarnya diakui hasil eksodus orang-orang dari pedalaman Loloda. Belum begitu jelas alasan apa mereka meninggalkan wilayah pedalaman. Dalam sumber yang lain, mereka direlokasi ke daratan Kedi setelah Perang Dunia II. “Soasio memang berasal dari pedalaman Loloda,” ujar Uhud Abdullah, salah satu warga Soasio.

Baca sumber selengkapnya:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *